Kamis, 23 April 2009

Yadnya Dalam Trimurti

Trimurti mengajarkan kita untuk memahami hidup menuju kealam yang terbebas dari tiga sifat Satyam, Rajas ,Tamas, oleh sebab itu Trimurti selalu mengingatkan kita senantiasa menganalisa hidup kedalam diri kita masing-masing agar muncul kesadaran Roh ketika menerapkanmya kelingkungan sekitar kita (Alam Agung).

Cara terbaik dalam memperoleh kesadaran roh pada saat kita mengaplikasikan kesadaran roh tersebut pada alam adalah menggabungkan meditasi 10 aksara dengan yandnya, neditasi 10 aksara baik dilakukan dalam perenungan menuju pencerahan (kesadran roh), sedangkan yadnya merupakan pembuktian bagi kita untuk tidak terikat pada segala materi yang melekat pada sifat tubuh (Satyam, Rajas, Tamas). Karena itu yadnya dan meditasi 10 aksara sebaiknya seiring dan sejalan.
Berdasarkan konsep ini yadnya adalah suatu bentuk pengorbanan sebagai bukti bahwa kita tidak ingin terikat pada sifat alam (Satyam, Rajas, Tamas) yang cenderung mengarahkan kita pada kenikmatan duniawi yang tidak kekal (Bersifat Ilusi), maka harus dipahami bahwa yadnya yang paling utama adalah yadnya yang dilakukan oleh mereka yang berani mengorbankan dirinya sendiri untuk Tuhan, bukan melalui simbul-simbul atau benda yang berklasifikasi utama. Jadi sesungguhnya siapapun bisa membuat yadnya yang madia dan nista menjadi utama atau dengan kata lain setiap yadnya yang dilakukan akan menjadadi utama, asalkan didasari oleh pengoborbanan dirinya dulu untuk Tuhan, bagai mana caranya:

  • Hilangkan rasa bangga atas apa yang kita miliki, karena sesungguhnya tak satupun yang kita miliki.
  • Hilangkan emosi, nafsu dan keserakahan dalam setiap prilaku yang terbaik jadikan diri dan apa yang kita miliki lebih bermanfaat untuk orang lain.
  • Hilangkan (minimalisir kebodohan dengan senantiasa melakukan kegiatan ambil menyebutkan nama Tuhan atau Sangkirtanan.

Dijaman kali yuga melakukan segala kegiatan dengan sangkirtanan adalah yadnya yang paling utama.
Dengan demikian jika ingin melakukan yadnya hendaknya jangan menentukan proposal yadnya terlebih dahulu apalagi ditentukan karena hanya mengejar tingkat yang utama berdasarkan kuantitas simbol, akan lebih baik jika kita mengumpulkan bahan-bahan yadnya (upacara)tanpa membuat ketentuan yang menjadi keharusan bagi tiap-tiap warga (ini berlaku juga untuk dana/ uang), dan setelah semuanya terkumpul baru bentuk upacara yadnya ditentukan, jika hanya yang nista yang bisa kita lakukan berdasarkan bahan dan dana yang ada itupun pasti akan menjadi utama karena didasari pengorbanan diri keterikatan sifat Satyam, Rajas, Tamas. Dan jika ada orang kaya yang memberikan dananya tidak sesuai dengan kekayaan yang dimilikinya kitapun tidak perlu menganggapnya kikir, karena sesungguhnya itulah kemampuan yang bisa ia lakukan.

0 komentar:

Poskan Komentar