Dewasa ini orang kebingungan mencari leluhur dan kawitannya, ada yang mencari karena kepongor (Kesakitan) dan ada juga yang karena di dorong rasa takut, tapi sebagian besar dari kita tidak tahu apa itu leluhur apa itu kawitan dan benarkah beliau menyebabkan kita sakit.
Ada sebuah doa mengatakan :
Om I Be Se Ta A I
Om Na Ma Si Wa Ya Mang Ang Ung
Om Murcantu, Moksantu, Swargantu, sunyantu, Angsama, Sampurna, Ya Nama Swadah.
yang artinya: Semoga sempurnalah para roh yang berada di alam Sunya, Sorga, Moksa, Murcantu atas berkat Tuhan dengan segala manifestasinya.
Pada doa ini kita diperkenalkan 4 (empat) alam yang akan di tempati dan roh ketika meninggalkan tubuh Pnca Maha Butha lalu berganti tubuh mwnjadi tubuh Astral (sunya), dan kemudian mengganti tubuh Mental (Surga) lalu mengganti tubuh Budhi (Moksa), lalu mengganti tubuh Nirwana (Murcantu). Pergantian tubuh ini ditentukan oleh sifat mana yang lebih dominan yang mempengaruhi sang roh ketika hidup dalam tubuh Panca Maha Butha dimana tubuh itu dibekali sifat Satyam, Rajas, Tamas. Jika saat itu hidupnya lebih dipengaruhi oleh sifat rajas dan tamas maka sang roh hanya mampu hidup di alam roh menggunakan tubuh dan hidup di alam astral (Neraka) yang mana sifat Rajas dan Tamasnya berlipat-lipat.
Alam astral (neraka) ada 7 lapisan makin keatas makin menipis pengaruh sifat Rajas dan Tamasnya, dan pada laoisan 3, 2, dan 1 disebut Sunya karena masih menyatu dengan Bumi, dan di alam ini semua yang ada di bumi ada juga di sunya tapi bersifat sunyi (Ilusi) dan pada pada alam ini terjadi istilah numadi.
Jika roh lebih dominan sifat satyam ketika menggunakan tubuh Panca Maha Butha maka iya berhak hidup di alam Mental (Surga) dengan tubuh mental.
Jika roh tidak terikat dengan sifat Satyam, Rajas, Tamas maka ia berhak Moksa ( hidup dialam moksa) dan lebih hebat lagi jika saat hidupnya melakukan pengabdian seprti Tuhan untuk kemanfaatan alam serta isinya maka sang roh berhak berada di alam murcantu (Nirwana), ini berarti sang roh sudah menemukan wit (kawitan) yang utama.
Berdasarkan klasifikasi alam-alam roh diatasa, leluhur yang selalu mengikat dan memaksa kita untuk mecari kawitan adalah mereka yang hidup di alam sunya yang masih mempunyai sifat rajas dan tamas, dan leluhur-leluhur yang berada disana seperti di alam mental (surga), yang bisa menyelamatkan roh di alam Astral (Sunya) dan untuk menyambung keinginan roh-roh tersebut dibutuhkan doa dari keturunanya yang masih hidup dan bersifat rohani.
Sebagai contoh Bendesa Mas (leluhur) membutuhkan keturunannya untuk membantu para leluhurnya yang masih hidup di sunya, dan dengan bantuan keturunan yang bersifat rohani para leluhur di alam mentalpun bisa merasakan kebahagiaan roh alam Budhi (moksa).
oleh sebab itu penting bagi orang untuk mengetahui siapa leluhur dan kawitannya, Banyak dari kita malah ribut setelah menemukan kawitan melalui penyelusuran Babad.
Trimurti memberi jalan keluar dengan cara mohon lah restu pada leluhur di Catur Kayangan, Yaitu: Lempuyang, Besakih, Dasarbuana, Sileyukti, dalam melakukan segala kegiatan dan jadikanlah mereka untuk memperoleh jawaban dari setiap pertanyaan . Kenapa begitu?, itu karena leluhur-leluhur di Catur Kayangan sudah mampu sekaligus membuktikan pada kita dengan konsep Trimurti yang beliau kembangkan beliau berhasil mencapai moksa (berada di alam moksa/ budhi), sehingga rasanya amat pantas jika beliau kita anggap sebagai guru.
Akan lebih baik jika kita menerapkan meditasi 10 aksara, ingin merasakan sentuhan sifat-sifat rohaninya, dalam meditasi 10 aksara kita bisa mudah memahami kapan sifat satyam, rajas, tamas menguasai kita, sehingga perdebatan-perdebatan yang mengkondisikan kita pada emosi, nafsu, serakah, kebodohan, dan rasa bangga tidak menimbulkan perpecahan antara keluarga. Sampai saat ini penulis masih membuktikan dengan cara ini nilai yang hakiki dalam mencari kawitan masih bisa dirasakan walaupun ketidak setujuan antara keluarga masih terjadi, tapi itu suatu hal yang biasa dalam Trimurti, bahkan kita memang mambutuhkan perbedaan pandangan dalam memahami Trimurtidan perbedaan-perbedaan tersebut ternyata bisa lebur pada saat meditasi 10 aksara dilakukan.
Ada sebuah doa mengatakan :
Om I Be Se Ta A I
Om Na Ma Si Wa Ya Mang Ang Ung
Om Murcantu, Moksantu, Swargantu, sunyantu, Angsama, Sampurna, Ya Nama Swadah.
yang artinya: Semoga sempurnalah para roh yang berada di alam Sunya, Sorga, Moksa, Murcantu atas berkat Tuhan dengan segala manifestasinya.
Pada doa ini kita diperkenalkan 4 (empat) alam yang akan di tempati dan roh ketika meninggalkan tubuh Pnca Maha Butha lalu berganti tubuh mwnjadi tubuh Astral (sunya), dan kemudian mengganti tubuh Mental (Surga) lalu mengganti tubuh Budhi (Moksa), lalu mengganti tubuh Nirwana (Murcantu). Pergantian tubuh ini ditentukan oleh sifat mana yang lebih dominan yang mempengaruhi sang roh ketika hidup dalam tubuh Panca Maha Butha dimana tubuh itu dibekali sifat Satyam, Rajas, Tamas. Jika saat itu hidupnya lebih dipengaruhi oleh sifat rajas dan tamas maka sang roh hanya mampu hidup di alam roh menggunakan tubuh dan hidup di alam astral (Neraka) yang mana sifat Rajas dan Tamasnya berlipat-lipat.
Alam astral (neraka) ada 7 lapisan makin keatas makin menipis pengaruh sifat Rajas dan Tamasnya, dan pada laoisan 3, 2, dan 1 disebut Sunya karena masih menyatu dengan Bumi, dan di alam ini semua yang ada di bumi ada juga di sunya tapi bersifat sunyi (Ilusi) dan pada pada alam ini terjadi istilah numadi.
Jika roh lebih dominan sifat satyam ketika menggunakan tubuh Panca Maha Butha maka iya berhak hidup di alam Mental (Surga) dengan tubuh mental.
Jika roh tidak terikat dengan sifat Satyam, Rajas, Tamas maka ia berhak Moksa ( hidup dialam moksa) dan lebih hebat lagi jika saat hidupnya melakukan pengabdian seprti Tuhan untuk kemanfaatan alam serta isinya maka sang roh berhak berada di alam murcantu (Nirwana), ini berarti sang roh sudah menemukan wit (kawitan) yang utama.
Berdasarkan klasifikasi alam-alam roh diatasa, leluhur yang selalu mengikat dan memaksa kita untuk mecari kawitan adalah mereka yang hidup di alam sunya yang masih mempunyai sifat rajas dan tamas, dan leluhur-leluhur yang berada disana seperti di alam mental (surga), yang bisa menyelamatkan roh di alam Astral (Sunya) dan untuk menyambung keinginan roh-roh tersebut dibutuhkan doa dari keturunanya yang masih hidup dan bersifat rohani.
Sebagai contoh Bendesa Mas (leluhur) membutuhkan keturunannya untuk membantu para leluhurnya yang masih hidup di sunya, dan dengan bantuan keturunan yang bersifat rohani para leluhur di alam mentalpun bisa merasakan kebahagiaan roh alam Budhi (moksa).
oleh sebab itu penting bagi orang untuk mengetahui siapa leluhur dan kawitannya, Banyak dari kita malah ribut setelah menemukan kawitan melalui penyelusuran Babad.
Trimurti memberi jalan keluar dengan cara mohon lah restu pada leluhur di Catur Kayangan, Yaitu: Lempuyang, Besakih, Dasarbuana, Sileyukti, dalam melakukan segala kegiatan dan jadikanlah mereka untuk memperoleh jawaban dari setiap pertanyaan . Kenapa begitu?, itu karena leluhur-leluhur di Catur Kayangan sudah mampu sekaligus membuktikan pada kita dengan konsep Trimurti yang beliau kembangkan beliau berhasil mencapai moksa (berada di alam moksa/ budhi), sehingga rasanya amat pantas jika beliau kita anggap sebagai guru.
Akan lebih baik jika kita menerapkan meditasi 10 aksara, ingin merasakan sentuhan sifat-sifat rohaninya, dalam meditasi 10 aksara kita bisa mudah memahami kapan sifat satyam, rajas, tamas menguasai kita, sehingga perdebatan-perdebatan yang mengkondisikan kita pada emosi, nafsu, serakah, kebodohan, dan rasa bangga tidak menimbulkan perpecahan antara keluarga. Sampai saat ini penulis masih membuktikan dengan cara ini nilai yang hakiki dalam mencari kawitan masih bisa dirasakan walaupun ketidak setujuan antara keluarga masih terjadi, tapi itu suatu hal yang biasa dalam Trimurti, bahkan kita memang mambutuhkan perbedaan pandangan dalam memahami Trimurtidan perbedaan-perbedaan tersebut ternyata bisa lebur pada saat meditasi 10 aksara dilakukan.


0 komentar:
Poskan Komentar